ØJika menemukan ide menulis, harus langsung dicatat or ditulis karena ia akan mudah menghilang jika kita menunda tuk menulisnya.
ØBerkaca pada orang yang lebih sukses dari kita agar motivasi kita terus tercambuk oleh kesuksesan mereka
ØJadikan menulis sebagai rutinitas, lebih baik sedikit namun terus menerus, daripada menulis banyak namun hanya sekali
ØJadikan keadaan sekitar kita sebagai inspirasi menulis, tentu akan banyak tema yang dihadirkan ketika kita menjadikan kedaan sekita sebagai inspirasi menulis
ØPostive thingking bahwa kita mampu menulis
Bismillah semoga kesemangatan menulis tetap mengiringi langkah kita.
Sepasang sepatu milik nyonya Brenda selalu mengeluh. Keluhannya pun bermacam macam. Mulai dari kesakitan ketika dipakai oleh pemiliknya, mengeluh karena harus menahan bau yang keluar dari kaus kaki yang dipakai pemiliknya, atau ketika sepasang sepatu tersebut disikat utnuk dibersihkan oleh pemiliknya.
Seakan hidupnya tak pernah berhenti dari keluhan. Merasa paling sengsara karena dirinya hanya sepasang sepatu, bukan menjadi raja yang tak perlu merasakan penderitaan sebagai sepasang sepatu.
Padahal, mengeluh bukan jalan menyelesaikan masalah. Mengeluh hanya akan memperburuk keadaan. Pasti ada hikmah yang terpendam dari berbagai kejadian yang kita alami. Temukan hikmah itu dengan positive thingking, karena seberat apapun masalah itu akan mudah kita atasi jika kita berpositive thingking, dengan begitu kita akan mudah menemukan jalan keluar.
Semuanya mudah jika kita berfikir itu mudah, semua akan terasa sulit jika kita berfikir itu sulit. So berpositive thingking lah.
Janganlah seperti itu sobat karena sesungguhnya rezekimu tak mungkin tertukar satu sama lain?Allah bahkan telah menetapkan rezeki seseorang sejak ia berada dalam kandungan.
Jadi meratapi kesengsaraan bukanlah jalan keluar dari segala permasalahan karena Allah tak tak merubah nasib seseorang kecuali orang tersebut berusaha tuk merubahnya.
Lalu apa yang harus kita lakukan?
Bersyukurlah, karena kau tak kan rugi sedikitpun jika bersyukur, Allah akan menambah nikmat seseorang jika ia bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya.
Bagaimana bisa bersyukur jika rezeki hari ini tak mencukupi tuk membeli kebutuhan kita?
Ingatlah kawan. Kita harus tinjau ulang mana kebutuhan mana keinginan, yang kau maksud mungkin sebuah keinginan karena kebutuhanmu sengguhnya telah dipenuhi oleh Allah saw.
Misalnya kau berkeinginan memiliki sebuah mobil,tetapi tak kunjung jua kau memiliki uang tuk membelinya. Allah maha mengetahui keadaan hambanya, mungkin saja kau belum layak mendapatkan mobil itu, atau mungkin Allah tak ingin kau menggunakan mobilmu untuk kemaksiatan maka Allah tak menginzinkanmu memiliki sebuah mobil. Terus bersyukur dengan kenikmatan yang saat ini kamu peroleh, lihat ke bawah agar kamu semakin bersyukur. Tetap berusaha agar Allah menganggap dirimu layak mendapatkannya.
Atau kau kini belum mendapatkan ilmu tentang kesabaran, oleh karenanya Allah menginginkan dirimu memperoleh kesabaran atasa ujian yang menimpa dirimu.
Terus berpositif thingking karena Allah sesuai dengan prasangka hambanya…
Terus bersyukur karena Allah akan menambahkan nikmat bagi orang-orang yang bersyukur kepadanya.
Menulis
bisa menjadi jalan dakwah bagi seseorang untuk mengingatkan saudaranya. Namun
kesemangatan memulai itu yang sulit bagiku. Tugas yang menumpuk pun menjadi
salah satu factor yang membuat diri ini makin enggan memulai tuk menulis.
Ditambah sedikit pesimis jika tulisan kita kurang berkenan di hati pembaca dan
melahirkan berbagai kontroversi serta krititak pedas, sepedas cabe rawit.
Hmn…sepertinya aku sudah amat jauh berfikir.
Harus
segera ku buang jauh perasaan negative itu. Memulai tuk membangun bangunan
bernama positive thingking, tak mudah memang, karena hawa nafsu mudah sekali
menggoyahkan pertahanan positive thingking itu..
Hmn
Jadi mulailah menulis….
Mulailah
percaya diri dengan apa yang kau tulis…
Mulailah
terbang menembus awan bersama segenap pemikiran yang kau tuangkan dalam
tulisan…
Masih terlalu kecil diriku saat kau meninggalkanku, usiaku saat itu belum genap sepuluh tahun. Pada waktu itu aku merasakan ketakukan yang luar biasa, ketakutan menjadi dewasa tanpa dirimu. Ketakukan menjalani hidup tanpa iringan doa darimu, karena ku tahu sekeping doa darimu, bisa menjadikanku lebih ringan dalam melangkah.
Bunda tahukah dirimu, setiap kali hari pengambilan raport tiba, ada perasaan yang sulit kugambarkan. Hampa karena kau tak bisa melihat prestasi yang telah ku raih, karena ku tak lagi mendengar pujian dan motivasi-motivasi dari bibirmu.
Kini, genap sepuluh tahun sudah kepergian dirimu. Berjuta rindu yang sulit ku ungkapkan. Binar matamu tiap kali mendengar keluh kesahku tak dapat lagi kutemui. Masa remaja yang kulalui tetap terasa hampa tanpa dirimu di sisiku. Sungguh aku rindu nasihat itu, aku rindu tatapan kasih sayangmu, aku rindu semua.
Hanya doa dan fatihah yang dapat mengantarkan rasa cinta dan rinduku pada dirimu
"Perjuangan memang tak semulus yang kita bayangkan, sayang. Pasti ada kerikil-kerikil yang akan menghiasi perjalanan dakwah kita," ucap Bunda lembut. bunda memang selalu bisa membuat Dina kembali bersemangat, meluruskan kembali niat yang ia untuk terus berjuang menyampaikan ilmu yang ia miliki walau hanya satu ayat.
Kerikil-kerikil itu memang kini sedang mewarnai perjuangan dakwah Dina. Beberapa adik binaannya kini tak lagi hadir dalam kegiatan mentoring yang sudah sejak enam bulan lalu dilakoninya.
Adik binaan Dina memang merupakan siswi terbaik dari sekolah mereka dan mereka kini mendapatkan beasiswa pendidikan dari pihak sekolah selama enam bulan. Tetapi pihak sekolah memberikan syarat kepada penerima beasiswa untuk mengikuti kegiatan mentoring. Jadilah Dina yang merupakan alumni sekolah tersebut di amanahkan oleh kepala sekolah untuk membimbing siswi terbaiknya.
Selama ini dirinya memang tidak menemui kesulitan dalam membimbing mereka. Mereka selalu hadir dalam kegiatan rutin tersebut. Tapi setelah libur semester ganjil satu-persatu dari mereka mulai menghilang, absen dari mentoring tanpa alasan yang jelas.
Ya sudah tiga pekan ini Mutia tidak hadir dalam mentoring tanpa alasan yang jelas, kali ini Sri juga ikut-ikutan membolos seperti Mutia, ketika Dina mencoba menanyakan hal ini pada Endah yang merupakan sahabat karib mereka berdua, ia diam tak bergeming. Ada apa ini?. Bahkan tiap kali Dina mencoba menanyakannya via telefon, selalu tak diangkap, sms pun tak dibalas.
Perjuangan menyebarkan kebaikan di jalan allah memang butuh kesabaran dalam menghadapinya. Bayangkan mentee yang awalnya berjumlah sepuluh orang kini semakin pecan kian menyusut jumlahnya bahkan sampai saat ini hanya tinggal 3 orang yang tersisa. Kemana sisanya?.
***
"Itu namanya suudzon Dina," ucap Bunda ketika Dina mencoba menceritakan apa yang terjadi dalam kegiatan mentoring yang ia bina. Tujuh dari sepuluh orang menteenya terserang Muntaber yakni mundur tanpa berita.
"Suudzon bagaimana Bunda, wong jelas-jelas Sri dan Mutia engga ikut mentoring tanpa alasan. Minggu berikutnya Tia dan Resti juga ikut hilang tanpa berita, eh hari ini Nining, Mawarni, dan Tyas juga ikut jejak mereka yang gak hadir. Kalau begini terus adik binaan Dina bisa habis Bunda," ujarnya kesal sambil mengambil tahu isi buatan bunda dan memasukannya dalam mulut.
"Kamu kan belum cek dan belum liat dengan mata kepala kamu apa benar mereka sengaja gak ikut mentoring, atau memang ada sesuatu yang mendadak yang tidak bisa ditinggalkan tetapi belum sempat memberitahu kamu apa alasnnya, jangan selalu memelihara suudzon sayang, kalau memang kamu belum bisa membuktikan kebenarannya," seru bunda sesekali matanya menatap Dina seolah memberikan keyakinan dan kekuatan pada dirinya, tetapi tangan lincah milik Bunda tak lepas dari sodet dan penggorengan.
Maafkan aku Bunda telah mengganggumu memasak, bisik Dina pelan, bahkan terdengar hanya seperti gurauan yang ditujukan pada dirinya sendiri. Tetapi tangan Dina langsung meraih sodet yang dipegang Bunda dan membiarkan Bunda beristirahat sambil menonton televisi, sedangkan dirinya kini mengambil alih pekerjaan memasak dari Bundanya.
Dina sengaja melakukannya, memberikan kesempatan Bunda untuk istirahat sedangkan ia mencoba mendinginkan kepalanya dengan membantu Bunda menggoreng tahu isi. Ia mencoba membawa dirinya pada suasana menyenangkan karena ia sedari dari terlalu serius memikirkan mentee yang absen mentoring.
"Tapi awas jangan melamun," ujar Bunda yang sedikit mengkhawatirkan Dina .Bunda khawatir Dina masih memikirkan kerikil-kerikil kecil yang mengganggu perjalanan dakwahnya.
"Siip Bunda,"
***
Malamnya Dina berusaha mencerna kata-kata bunda, bahwa dirinya jangan tergesa-gesa dalam memberikan dugaan yang belum terbukti kebenarannya. Ia harus segera mencari tahu apa yang menjadi alasan mentee-menteenya yang absen dalam mentoring.
Ternyata belakangan ia baru tahu dari Kepala Sekolah bahwa beasiswa yang mereka terima kini sudah dihentikan, dan bergilir kepada siswi yang lain. Hmn rupanya hal itu penyebabnya, hati Dina mulai menduga-duga. Ups tak sadar dirinya suha mulai berprasangka buruk lagi pada mentee nya.
Penyelidikan belum berakhir, Dina belum bisa menemukan apa yang menjadi alasan pasti mengapa mentee nya absen mentoring.
Hari ini Dina memang tak ada jadwal kuliah, ia sengaja menyempatkan diri menunggu kepulangan mentee nya yang sudah beberapa pekan ini tak hadir dalam mentoring. Ia hanya ingin mengetahui apa yang menjadi alasan mereka yang absen dalam kegiatan mentoring beberapa pekan terakhir. Ia akan berusaha menjadikan mentee nya tetap istiqomah berada di jalan Allah.
Tak menunggu lama, bel tanda jam pelajaran telah usai pun bordering. Dirinya siap mencari wajah-wajah mentee yang tak asing lagi.Berhasil, ia berhasil menemui empat mentee dari tujuh mentee yang dicarinya. Dengan hati-hati Ia mencoba menanyakan alasan mengapa mereka tak hadir lagi dalam mentoring.
"Beasiswa yang kita terima sudah dihentikan kak, jadi apa gunanya kita ikut mentoring, toh kalaupun kita ikut mentoring, kita gak kan dapet beasiswa lagi kan?"
ucap Mawarni mewakili isi pikiran ketiga temannya ketika Dina mencoba mengajak mereka agar ikut mentoring seperti dulu lagi.
Terjawab sudah dugaan-dugaan negative yang selama ini berputar dalam pikiran Dina.
Ada segores luka yang amat perih yang dirasakan Dina dalam jiwanya saat mereka melontarkan alasannya. Tak cukupkah Dina selama ini memberikan pemahaman ajaran Allah pada mereka hingga kini mereka mampu berkata demikian?
Ya Allah kuatkan aku. Bisik Dina pada hati kecilnya mencoba memberikan kekuatan pada dirinya sendiri.
"Udah ya kak, kita masih banyak urusan ni, daah kak Dina," ucap mereka yang masih bisa dibalas Dina dengan senyuman paling manisnya yang diiringi ribuan doa untuk diri mereka agar mereka bisa kembali mengkuti mentoring dan tetap istiqomah dalam jalan penuh cahaya yang dipenuhi oleh ridho Allah swt.
***
Tiga orang baginya bukan halangan untuk terus menebar kebaikan, tapi tentu saja doa-doa masih terus dipanjatkan Dina pada mentee yang kini sudah tidak mau mengikuti kegiatan mentoring.
Sunggu ada sebersit kerinduan di hati Dina pada mereka. Rindu karena hati yang terikat dalam ikatan suci bernama ukhuwah. Rindu pada gelak tawa yang terkadang mewarnai disela-sela materi. Entah terbalas oleh ketujuh mentee nya atau tidah tetapi hati Dina tetap merindu.
Bukan hanya doa yang dilakukan Dina agar mentee nya kembali ikut kegiatan yang dulu rutin mereka lakoni. Bicara dari hati ke hati pun tak jarang ia lakukan meski dirinya harus meluangkan waktu lebih untuk ketujuh mentee yang mundur tanpa kabar. Ia tak rela jika seandainya mentee yang sudah sangat ia sayangi walau hanya bersama selama enam bulan itu berjalan dalam jalan yang tidak diridhoi sang Khalik, atau bersenang-senang di luar sana tanpa sedikit pun mengingat kenikmatan dari sang pencipta.
***
Sepertinya sore ini Dina telat datang ke mushola sekolah tempat dimana ia membimbing tiga orang mentee yang sampai saat ini masih istiqomah menjalani mentoring bersama Dina. Tugas kuliah yang harus dikirim sore ini juga melalui via email membuat dirinya sedikit terlambat datang ke tempat mentoring. Walaupun sebelumnya ia sudah memberi kabar keterlambatannya melalui via sms pada ketiganya tetap saja ia merasa tak enak hati jika membuat mentee nya menunggu lama.
Segera Dina meluncur bersama motornya ke tempat tujuan setelah dirinya selesai mengirim tugas. Sungguh Dina tak ingin membuat menteenya menunggu kehadirannya terlalu lama.
"Assalamualaikum," ucap Dina ketika dirinya tiba di musholla, tetapi alangkah terkejutnya ia melihat ketujuh mentee yang terserang muntaber hadir kembali di musholla seperti dulu. Seluruh lelah yang ia rasakan sejak tadi pagi seakan sirna ketika melihat wajah-wajah yang selama ini ia rindukan.
"Waalaikumussalam," jawab mereka serempak seraya mendekati Dina, memeluk erat tubuh Dina merasakan indahnya dekapan ukhuwah.
"Terimakasih Kak, atas doa-doa yang kau panjatkan juga usaha yang kau lakukan hingga kini kami mendapat hidayah kembali dari Allah tuk mengikuti mentoring kembali bersama mu," bisik Mawarni lembut di telinga Dina. Ya lagi-lagi Mawarni yang mewakili suara teman-temannya.
"Jalan dakwah masih panjang, mari kita kuatkan tali ukhuwah kita tuk terus melangkah bersama dalam jalan yang diridhoi Allah," ucap Dina sebelum memulai mentoringnya kali ini.
Sudah dua hari ini kulihat gadis itu berjualan es buah di depan masjid komplek tempat tinggal ku. Rumahku bersebelahan dengan masjid, jadi aku bias melihatnya
datang dengan sepedanya membawa beberapa buah plastik berisi es buah siap saji Sebagai hidangan berbuka puasa.
Ku coba berkenalan dengannya dan ku utarakan niatku untuk menjadi sahabatnya karena aku sangat tertarik dengan kegigihannya menjajakan es buah dan aku siap membantunya berjualan es buah, karena bagiku ini pengalaman menarik sambil mengisi waktu sore.
Setelah berkenalan,ku tahu namanya Nina,dia tinggal di belakang komplek. Dia berjualan untuk membantu ibunya yang hanya seorang buruh cuci dan ayahnya yang sudah lama meninggal dunia.
Seminggu sudah ku membantunya berjualan es buah di depan masjid komplek. Tapi aku sangat tersentak dengan kejadian sore ini. Uang di kotak amal milik masjid lenyap, bersamaan dengan itu pula Nina tak pernah kulihat berjualan di depan masjid. Bapak bapak di masjid pun menyudutkan Nina sebagai pelakunya dan akan segera diselidiki kebenarannya. Aku tak percaya jika Nina yang melakukannya
Siang ini Nina datang memintaku untuk mengantarnya ke sebuah toko baju. Dalam perjalanan dia mengatakan hal yang membuatku sangat tak percaya.Dia berkata bahwa dirinyalah yang mencuri uang di masjid untuk membeli baju lebaran.